Kita adalah Para Juara

Belajar sungguh-sungguh, hormat kepada Bapak/Ibu guru, dan beribadah kepada Rabbul Izzati, Allah SWT adalah cara kami menjadi generasi emas islam.

Kami selalu ingin menjadi mitra yang baik

Belajar tidak hanya di sekolah. Jauh lebih penting kita belajar tentang kehidupan yang sesungguhnya. "Sebaik-baik manusia ialah yang paling bermanfaat untuk orang lain".

Berprestasi adalah tradisi kami

Allah menciptakan manusia untuk berprestasi. Dan berprestasi di hadapan Allah jauh lebih luar biasa. Do'akan kami untuk terus mengukir prestasi terbaik di dunia dan akhirat. "SDIT Izzatul Islam Berhitmad untuk Ummat".

Kami juga bersahabat dengan alam

Allah lebih menyukai orang-orang kuat daripada yang lemah. Muslim prestatif, taat, dan kuat. Allahu Akbar!!

Puncak tertinggi kan kami daki

Hidup di dunia hanya sekali. Berjuang dan ber-azzam-lah untuk senantiasa dalam kebaikan! Akan kami raih puncak tertinggi itu ya Allah, "Izzatul Islam".

Tampilkan postingan dengan label Kolom Guru. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kolom Guru. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 Februari 2014

Ke Mana Perginya Air?

oleh: Lilis Setyowati, S.Pd.
Musim hujan telah tiba, sehingga matahari jarang sekali menampakkan keceriaannya dari hari ke hari. Para  orang tua mengeluh tentang banyaknya cucian basah yang tak kunjung kering karena cuaca mendung. Tapi,  kenapa ya...? walau cuaca mendung dengan suhu yang rendah lama kelamaan baju yang dijemur tingkat kadar air nya akan semakin berkurang, lalu kemana perginya air yang membasahi cucian tadi ...?
Air tadi tidak menghilang, air hanya akan selalu berpindah tempat dari satu tempat ke tempat yang lain, perpindahan tersebut melalui berbagai proses  yaitu perubahan wujud. Perubahan wujud ada 5 macam yaitu mencair, mengembun, menyublim, membeku dan menguap. Naahhh ... perubahan wujud yang terjadi pada cucian yang basah adalah penguapan. Air yang terdapat di serat – serat kain akan menguap menjadi gas. Semakin tinggi suhu air, akan membuat air semakin cepat menguap. Jadi wujud cair tadi akan berubah menjadi uap.

Naaahhhhh .....peristiwa perputaran air disebut siklus air. Jadi dimuka bumi ini air akan mengalami peristiwa perputaran, yang tidak akan menyebabkan air akan habis terpakai. Air hanya berubah wujud.

Tokoh Kita


POJOK BAHASA

Oleh: Niken Nugrahaningsih, S.Pd.
Dalam kolom ini kita akan membahas istilah-isltilah yang sering kita temui, bahkan kita gunakan sehari-hari. Yang menarik kita akan berusaha menyampaikan dalam 4 bahasa, yaitu bahasa Jawa, Indonesia, Inggris, dan Arab. Untuk edisi awal kita akan membahas 5 istilah saja terkait dengan karakter anak yang kita harapkan.
·         Jujur dalam bahasa Jawa adalah blaka, menjadi honest dalam bahasa Inggris dan sidiq dalam bahasa Arab.
·         Bertanggung jawab dalam bahasa Jawa adalah tanggung jawab, be responsible dalam bahasa Inggris, dan dalam bahasa arab adalah mas’uliyah
·         Suka menolong menjadi seneng aweh pitulungan dalam bahasa Jawa, helpful dalam bahasa Inggris, dan yuhibbul musa’adah dalam bahasa Arab.
·         Hormat dalam bahasa jawa adalah kurmat, respect dalam bahasa Inggris dan ihtiram dalam bahasa Arab.
·         Bersungguh-sungguh berarti tenanan dalam bahasa Jawa, make a serious effort dalam bahasa Inggris dan dalam bahasa Arab adalah mujahidun linafsihi

Demikian 5 istilah yang bisa kita pelajari, semoga bermanfaat.

Kabeh Kudu Ngaji

oleh: Sri Wahyuni, S.Ag.

اطلب العلم من المهد الى اللهد  artinya tuntutlah ilmu dari buaian sampai ke liang lahat ( Hr. muslim ) dari hadis di atas jelas sekali bahwa kewajiban menuntut ilmu tidak dibatasi oleh apapun baik jenis kelamin, usia ataupun daerah. Semua orang berkewajiban untuk mencari ilmu selama desah nafas masih terasa. Betapa pentingnya ilmu sehingga Allah menjanjikan akan mengangkat  orang-orang yang beriman dan berilmu beberapa derajat. Bahkan dalam surat … Allah SWT berfirman :” apakah sama orang-orang yang tahu dan yang tidak tahu? “
Sungguh luar biasa perbedaan antara  orang-orang yang berilmu dengan orang-orang yang tidak berilmu, sebab orang berilmu mereka beramal karena ilmunya sedangkan orang yang tidak berilmu mereka beramal karena ketidaktahuannya.
Keutamaan-keutamaan ilmu antara lain :
1.      Pertanda orang yang memiliki rasa cinta dan takut kepada Allah SWT.
Sudah seharusnya orang yang memiliki ilmu itu semakin tawadhu’ dalam kehidupannya dan rasa cinta dan takutnya kepada Allah semakin besar.
2.      Jihad ( bersungguh-sungguh )
Sahabat mu’adz bin Jabal mengatakan bahwa,” sesungguhnya menuntut ilmu itu termasuk jihad fisabilillah.”
3.      Dengan ilmu seseorang dapat menggapai derajat disisi Allah SWT
Seseorang akan beramal dengan benar  manakala didasari dengan ilmu. Ibarat ilmu itu adalah imam sedangkan amal adalah makmum atau yang mengikuti.
4.      Dengan ilmu seseorang akan mendapatkan kemuliaan di dunia maupun diakhirat.
Dalam sebuah hadis rasulullah bersabda, “ Barang siapa yang menginginkan kehidupan dunia maka, harus dengan ilmu, dan barang siapa yang menginginkan kehidupan akhirat maka, juga dengan ilmu, dan barang siapa yang menginginkan keduanya maka itu juga dengan ilmu.”
5.      Dapat menyelamatkan dirinya dan orang lain
Orang yang memiliki ilmu ketika memberi nasehat atau memberitahu orang lain berdasarkan ilmu sehingga tidak menyesatkan orang lain, sementara orang yang tidak berilmu memberi tahu orang lain atau menasehati orang lain berdasarkan ketidaktahuannya atau kayaknya dan ini bias menyesatkan.

Karena keutamaan ilmu yang sedemikian luar biasa, maka kami ( civitas sdit ) berusaha untuk senantiasa mendorong diri kami dan juga seluruh komponen yang berperan di sekolah untuk tak pernah bosan-bosannya menambah ilmunya ( dengan mengikuti pengajian ). Kegiatan semacam ini sudah kami lakukan untuk para guru, karyawan, sopir  anak-anak SDIT  , alumni SDIT, maupun sebagian orang tua murid SDIT. Inilah salah satu program “GERAKAN MENGAJI UNTUK SEMUA”

Besar harapan kami dan insya Allah kami siap untuk membantu bapak ibu wali murid SDIT Izzatul islam ikut mensukseskan gerakan ini.

Minggu, 09 Juni 2013

ENERGI MENGAJAR


“Without passion you don’t have energy, without energy you have nothing (Donald Trump)”.
Begitu isi sepenggal SMS dari salah satu sahabat terbaik saya. Mungkin dia bermaksud mengingatkan saya, atau mungkin dia tengah berbagi tentang apa yang sedang dia pikirkan. Saya pun tidak tahu. Tapi, SMS itu telah membangunkan saya “seolah-olah” sedang terlelap dari tidur sepekan terakhir ini. Mungkin karena SMS itu pula, saya kemudian bersemangat kembali menulis catatan yang kosong ini dan ingin berbagi dengan rekan dan sahabat di dunia maya. Lepas dari itu, SMS itu juga yang ingin saya paparkan melalui tulisan ini.

Pesan dari Donal Trump mungkin ada benarnya. Meski teori tentang energi adalah kekal sebagaimana kita kenal dalam ilmu fisika di sekolah. Ternyata Trump menginspirasikan bahwa yang namanya energi itu punya sebab, yaitu hasrat (passion). Jadi kemunculan energi itu karena ada hasrat, dorongan (dari dalam). Dalam salah satu buku yang pernah saya baca yang berjudul “Phsycology of Winning”, bahwa dorongan dari dalam itu adalah motivasi. Menurutnya pula motivasi itu berasal dari dalam diri seseorang. Dia juga menolak kalau motivasi itu disebabkan dari luar selain dari dalam. Maka menjadi masuk akal yang dikatakan Trump, kalau energi yang luar biasa itu muncul karena dorongan dari dalam diri yang begitu kuat. Banyak contoh bisa disaksikan dan mungkin sudah pernah dialami oleh sebagian kita. Betapa dorongan yang kuat dari dalam diri seseorang mampu memunculkan energi sehingga mencapai apa yang diinginkannya. Dengan hasrat dan dorongan tersebut, seseorang mampu melampaui kemampuan dari yang diperkirakan sebelumnya.

Demikian pula dalam proses pembelajaran di sekolah. Seorang siswa bisa dengan tidak diduga mampu mencapai nilai maksimal dalam sebuah proses pembelajaran. Tiba-tiba siswa tersebut sangat berenergi dan penuh antusias mengikuti pelajaran yang disampaikan oleh gurunya. Padahal sebelumnya dia nampak biasa-biasa saja bahkan cenderung kurang peduli atau cuek. Mengapa demikian?
  • Pertama, guru dari siswa tersebut telah memberikan energi positifnya kepada seluruh siswa melalui awal perjumpaan yang mengesankan dan menyenangkan. Atau siswa sudah dibawa ke dalam area menyenangkan (alpha zone) terlebih dahulu. Di benak/pikiran siswa tidak terlintas sesuatu yang membuat susah atau “njelimet”.
  • Kedua, guru membawa rasa nyaman siswa pada kondisi yang membuat siswa tertegun, terkesima dan terpaku dengan penjelasan maupun sesuatu yang ditampilkan oleh sang guru. Di sini siswa mengalami proses pra-kondisi yang dramatis yang membuat siswa (mau tidak mau) harus mengikuti detil penjelasan guru satu per satu. Guru mengawali aktivitas belajar siswa dengan Scene Setting. Sehingga siswa dengan kesadaran penuh melakukan aktivitas belajarnya dengan penuh antusias berenergi.
  • Ketiga, guru dalam melalukan kedua hal di atas harus dengan penuh antusias dan menjadi “dalang” bagi lahirnya sebuah aktivitas belajar yang mandiri dan terbimbing. Tanpa antusiasme dari guru tidak akan ada manfaatnya sama sekali. Karena energi positif yang terbangun dalam diri guru harus terdeteksi dan ditransformasikan kepada setiap siswanya.
Jadi, kapan lagi guru mengajar dengan penuh energi kalau bukan sekarang. Maka mulailah mengajar dengan hasrat dan dorongan dari dalam diri seorang guru. Dari situlah akan muncul energi positif yang akan menjadi bekal guru mengajar kepada para siswa. Jangan berharap siswa antusias jika guru juga tidak antusias. Sayangnya, sebigian guru beralasan, bahwa untuk ber-energi membutuhkan gizi yang tinggi. Apa benar demikian? Terserah anda kawan yang menilai.


sumber:http://www.sdit-insanmandiri.net/index.php?option=com_content&view=article&id=98:energi-mengajar&catid=37:artikel-pendidikan&Itemid=37

Kamis, 10 Januari 2013

GURU MENULIS BUKU CERPEN (Deadline 21 Februari 2013)

 


monggo Bapak/Ibu Guru yang berminat untuk mengikuti event ini.

  

PENGANTAR
Dalam menyambut peringatan milad RA Kartini 21 April 2013, penting kiranya bagi guru untuk meneruskan dan mengembangkan perjuangan beliau dengan menulis karya kreatif berupa cerita pendek bermuatan kritik sosial. Cerpen akan diseleksi dan dijadikan antologi bersama.
Selain posisi guru yang strategis dalam dunia pendidikan (untuk sosialisasi pengetahuan dan nilai-nilai), undangan menulis cerpen ini dibuat dengan alasan mulai bangkitnya kembali talenta para guru dalam dunia tulis-menulis. Cerpen dipandang medium kreativitas yang strategis dan luwes.
Cerpen-cerpen tersebut bukan hanya perjuangan perempuan demi kesetaraan gender, melainkan juga hak domestik dan hak-hak sosial, politik, pendidikan, budaya, dan seterusnya bagi kaum perempuan.
Konflik-konflik ideologis, filosofis, dan praksis yang dialami perempuan—ketika dihadapkan pada norma-norma dan nilai kultural wanita ‘Timur’—bisa dileburkan di dalam cerpen. Dengan demikian, inilah medan perjuangan para guru lewat cerpen.
TEMA:
“Perjuangan perempuan demi kesetaraan gender, hak domestik, dan hak-hak sosial, politik, ekonomi, pendidikan, dan budaya.”

PESERTA:
Guru
WAKTU PELAKSANAAN:
7 Januari—21 Februari 2013
ALAMAT MENGIRIM:
Naskah dalam bentuk attachment (soft copy) dikirim ke blingualsite@yahoo.co.id dengan title JUDUL CERPEN-Nama Penulis.
PENGUMUMAN PEMENANG:
Pengumuman pemenang akan disampaikan di grup Gerakan Guru Menulis Buku (G2MB) pada 1 Maret 2013.
KETENTUAN-KETENTUAN
  1. Peserta adalah guru negeri dan swasta tanpa memandang gender (dibuktikan dengan fotokopi identitas diri yang sah dan meyakinkan).
  2. Peserta hanya diperbolehkan mengirimkan 1 (satu) naskah cerpen terbaiknya.
  3. Temanya: Perjuangan perempuan demi kesetaraan gender, hak domestik, dan hak-hak sosial, politik, ekonomi, pendidikan, dan budaya.
  4. Naskah cerpen bermuatan eksperimentasi, eksplorasi, dan inovasi yang unik, baik visi maupun teknik penyajian.
  5. Naskah cerpen merupakan karya sendiri, bukan saduran, terjemahan, atau plagiat.
  6. Naskah cerpen belum pernah dipublikasikan di media massa cetak dan atau elektronik, dan tidak sedang diikutkan dalam lomba/sayembara lain.
  7. Naskah cerpen diketik menggunakan huruf Time News Roman, 12 pt, spasi 1.5, dengan panjang maksimum antara 8.000-15.000 karakter atau 4-8 halaman.
  8. Biodata penulis dilampirkan pada halaman terakhir naskah, dan tidak lebih dari satu halaman—yang meliputi: Data diri, foto profil, data keorganisasian (relevan), data kepengarangan (relevan), data penghargaan (relevan), dan alamat (korespondensi dan email, no. telepon seluler). Sertakan pula scan (pindai) identitas diri.
  9. Naskah cerpen dikirim paling lambat 21 Februari 2013, pukul 23.59 WIB. Setelah Anda mengirimkan naskah, dimohon sms atau menghubungi lewat HP sekreatriat.
  10. Naskah cerpen yang dikirim menjadi milik panitia;
  11. Dewan juri akan memilih 21 naskah terbaik (jawara I, II, III, dan 18 nominie),
  12. Keputusan Dewan Juri (empat orang) bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu-gugat.
  13. Setiap penulis yang naskahnya dibukukan mendapatkan royalty dari penjualan buku (atau dari penerbit) dibagi jumlah penulis.
SEKRETARIAT
Rumah Kreatif BILINGUALSITE
Jln. Granit Kumala 4.2 No. 37-39 Perumnas Kota Baru Driyorejo
Gresik 61177
Telpon. +62-85852574070
Email: bilingualsite@yahoo.co.id
 Sumber Informasi: Much Khoiri


sumber: http://www.gurumuda.info/info-guru/guru-menulis-buku-cerpen-deadline-21-februari-2013

Sabtu, 05 Januari 2013

Agar Anak Tidak Malas Belajar

Saat mendengar kata "belajar", banyak anak yang enggan untuk melakukannya. Simak saja Ibu Shelly yang selalu teriak-teriak dahulu untuk menyuruh anaknya belajar. "Anak saya itu kalau sudah disuruh belajar, selalu ngumpet. Kalau sudah ketemu, dia lari bersembunyi di tempat lain. Sampai rasanya jengkel sekali," begitu katanya. Sebagai orang tua tentunya kita ingin agar anak kita menjadi pintar dan tidak ketinggalan pelajaran, tetapi bagaimana caranya supaya anak mau disuruh belajar? Dibawah ini merupakan beberapa tips agar anak agar tidak malas belajar:
1. Jadilah contoh yang baik buat anak.
Orang tua merupakan panutan dari anaknya, oleh karena itu kita harus memberikan contoh terbaik agar ditiru oleh anak. Saat orang tua menyuruh dan mengawasi anak belajar, usahakan agar Anda juga terlihat seperti mempelajari sesuatu, misalnya dengan membaca buku. Sesekali ajak anak Anda untuk berdiskusi mengenai suatu topik yang hangat. Dengan begitu anak melihat bahwa orang tuapun ikut belajar.
2. Pilihlah waktu belajar yang baik.
Ketika anak merasa capek, ia akan enggan untuk melakukan apa saja. Oleh karenanya, coba pilihlah waktu yang tepat dimana anak sedang merasa segar untuk melakukan sesuatu, termasuk kegiatan belajar. Anda dapat mencoba di sore hari saat anak sudah mandi sore.
3. Buatlah jadwal belajar.
Anak cenderung untuk melakukan sesuatu yang pasti. Dengan membuat jadwal belajar secara rutin, anak akan mengerti bahwa jam yang ditentukan tersebut merupakan waktunya untuk belajar.
4. Kenali daya konsentrasi anak Anda.
Setiap anak memiliki daya konsentrasi yang berbeda-beda. Coba amati anak Anda, apakah ia tipe anak yang dapat berkonsentrasi selama 2 jam penuh atau hanya 30 menit. Apabila anak Anda merupakan tipe daya konsentrasi pendek, berikan istirahat sejenak disela-sela waktu belajar, setelah itu, anak dapat meneruskan kegiatan belajarnya lagi.
5. Berikan bantuan saat anak membutuhkannya.
Saat mengerjakan PR, kadang anak menemui soal yang sulit untuk dikerjakannya. Coba berikan bantuan saat ia membutuhkannya dengan cara menjelaskan bagaimana untuk menyelesaikan soal tersebut. Dengan begitu, anak dapat mengetahui bagaimana cara mengerjakannya tanpa harus terjebak di soal yang sulit.
Semoga tips diatas dapat membantu dan mudah-mudahan Ibu Shelley tidak perlu teriak-teriak dan kejar-kejaran dengan anaknya lagi ...

Sumber : /www.duniabelajar.com

Empat Pilar Membentuk Karakter Anak Islam

Kegiatan Outing Class di Polsek Getasan
Anak merupakan investasi masa depan orangtua, di dunia maupun di akhirat. Karenanya, orangtua perlu berikhtiar untuk mendidik anaknya dengan baik, agar bisa tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter. Bagaimana caranya?

Setidaknya ada empat pilar penting dalam membentuk karakter anak muslim. Pertama adalah pentingnya mengintegrasikan nilai-nilai Islam ke dalam seluruh aspek kehidupan. Di rumah, nilai-nilai Islam harus termanifestasi dalam perilaku kehidupan sehari-hari. Anak harus merasakan itu sebagai pengalaman batin yang akan membentuk karakter dirinya. Suasana rumah menjadi pondamen penting bagi pembentukan karakter anak selanjutnya, baik di sekolah maupun di pergaulan nantinya.

Kedua, perlunya mengembangan multi kecerdasan anak. Adalah salah kaprah membatasi kecerdasan anak hanya pada ranah kognitif saja. Sehingga anak yang tidak mendapatkan prestasi akademik yang baik, dianggap sebagai anak yang bodoh dan tidak bermasa depan. Orangtua perlu menyadari ini, sehingga tidak melulu menuntut anak mengejar prestasi akademik tinggi, sehingga justru melupakan “kecerdasan” anak yang sesungguhnya.

Kecerdasan seseorang dapat dilihat dari banyak dimensi, karena kecerdasan memiliki makna yang luas. Pakar multiple intellegence Howard Garner menyebutkan 8 bentuk kecerdasan, yakni: kecerdasan linguistik, matematis-logis, visual-spasial, musikal, kinestetik, interpersonal, intrapersonal, dan naturalis.

Setiap anak pasti memiliki kecenderungan jenis kecerdasan tertentu. Kecenderungan tersebut harus ditemukan melalui pencarian kecerdasan (discovering ability). Para orangtua atau guru bisa berperan dalam proses pencarian kecerdasan ini, sehingga potensi dan bakat anak dapat dikembangkan secara optimal.

Ketiga, pembentukan kebiasaan atau habit forming. Dalam upaya membentuk anak muslim yang berkarakter, habbit (kebiasaan) menjadi salah satu pilar penting yang tidak boleh diabaikan. Meski harus dimulai dari kesadaran hati, namun untuk menjadi sebuah karakter kepribadian, diperlukan proses pembiasaan dalam jangka panjang, kontinu, dan berkelanjutan.

Pengabaian terhadap habbit forming akan memunculkan kepribadian yang pecah (split personality), di mana seseorang menyadari dan meyakini kebenaran atau kemuliaan suatu ajaran, namun tidak mampu mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, karena tidak terbiasa dan terlatih. Dalam hal ini, anak tidak hanya dididik untuk tahu (kognitif), mampu (bisa/keterampilan), dan mau (kesadaran), namun juga terbentuk (terinternalisasi menjadi bagian dari kepribadian).

Sebagai contoh, shalat tidak hanya diajarkan dari sudut kaifiyat (tata pelaksanaannya)-nya saja, namun harus melalui penyadaran, belajar langsung dari praktik keseharian, pembiasaan, dan keteladanan. Demikian juga pada aspek-aspek yang lain.

Keempat adalah keteladanan (uswatun hasanah). Keteladanan menjadi faktor superpenting dalam membentuk pribadi anak yang berkualitas dan berkarakter. Orang tua harus menjadi contoh nyata (uswatun hasanah) bagi anak-anaknya.

Hal ini terjadi karena secara naluriah dalam diri anak ada potensi untuk meniru hal-hal yang ada di sekitarnya. Pada usia dini, keteladanan orang tua sangat berpengaruh terhadap kepribadian anak. Segala yang dilakukan oleh orang tua dianggapnya selalu benar dan paling baik. Maka, secara otomatis anak akan mudah menirunya. (*)



*) Materi ini pernah disampaikan penulis dalam acara Smart Parenting di SDIT Islamic Centre Purwodadi oleh Badiatul Muchlisin Asti

Rabu, 26 Desember 2012

Guru dan Kurikulum 2013

Sukemi
Ada empat aspek yang harus diberi perhatian khusus dalam rencana implementasi dan keterlaksanaan kurikulum 2013. Apa saja?  
Pertama, kompetensi guru dalam pemahaman substansi bahan ajar (baca: kompetensi pedagogi/akademik).  Didalamnya terkait dengan metodologi pembelajaran, yang nilainya pada pelaksanaan uji kompetensi guru (UKG) baru mencapai rata-ratanya 44,46.
Kedua, kompetensi akademik (keilmuan), ini juga penting, karena guru sesungguhnya memiliki tugas untuk bisa mencerdaskan peserta didik dengan ilmu dan pengetahuan yang dimilikinya, jika guru hanya menguasai metode penyampaiannya tanpa kemampuan akademik yang menjadi tugas utamanya, maka peserta didik tidak akan mendapatkan ilmu pengetahuan apa-apa.
Ketiga, kompetensi sosial. Guru harus juga bisa dipastikan memiliki kompetensi sosial, karena ia tidak hanya dituntut cerdas dan bisa menyampaikan materi keilmuannya dengan baik, tapi juga dituntut untuk secara sosial memiliki komptensi yang memadai. Apa jadinya seorang guru yang asosial, baik terhadap teman sejawat, peserta didik maupun lingkungannya.
Keempat, kompetensi manajerial atau kepemimpinan. Pada diri gurulah sesungguhnya terdapat teladan, yang diharapkan dapat dicontoh oleh peserta didiknya.
Guru sebagai ujung tombak penerapan kurikulum, diharapkan bisa menyiapkan dan membuka diri terhadap beberapa kemungkinan terjadinya perubahan.
Kesiapan guru lebih penting dari pada pengembangan kurikulum 2013. Kenapa guru menjadi penting? Karena dalam kurikulum 2013, bertujuan mendorong peserta didik, mampu lebih baik dalam melakukan observasi, bertanya, bernalar, dan mengkomunikasikan (mempresentasikan), apa yang mereka peroleh atau mereka ketahui setelah menerima materi pembelajaran.
Melalui empat tujuan itu diharapkan siswa memiliki kompetensi sikap, ketrampilan, dan pengetahuan jauh lebih baik. Mereka akan lebih kreatif, inovatif, dan lebih produktif.
Disinilah guru berperan besar didalam mengimplementasikan tiap proses pembelajaran pada kurikulum 2013. Guru ke depan dituntut tidak hanya cerdas tapi juga adaptip terhadap perubahan. (***)


sumber: http://www.kemdiknas.go.id/kemdikbud/artikel_kurikulum2013

Selasa, 25 Desember 2012

TIPE GURU MANAKAH KITA?

Kualitas pendidikan tidak hanya ditentukan oleh sistem pendidikan, tetapi ditentukan juga oleh pendidik. Melalui pendidiklah aktivitas paedagogis dapat diarahkan pada tujuan yang ingin dicapai, yaitu mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban yang bermartabat.
Guru selain sebagai pendidik, juga bertanggung jawab dalam mentransformasikan ilmu pengetahuan dan nilai-nilai yang telah ditetapkan, sehingga kehadiran guru akan banyak memengaruhi keberhasilan proses pendidikan itu sendiri. Gurulah yang menjadi ujung tombak dalam proses penyiapan generasi mendatang. Karena itu, jika bangsa ini hendak menyiapkan generasi mendatang, gurulah yang pertama kali harus dipersiapkan.
Dalam kehidupan masyarakat, istilah guru mempunyai arti lebih luas, tidak sebatas guru di sekolah saja. Semua orang yang pernah memberikan atau mengajarkan suatu ilmu atau kepandaian tertentu kepada seseorang atau sekelompok orang dapat disebut guru. Misalnya, guru silat, guru mengetik, guru menjahit, dan sebagainya.
Mengajar sering kali dikaitkan dengan kegiatan menyampaikan dan memberikan sesuatu berupa bahan dan materi tertentu yang mesti dipelajari oleh siswa. Karena itu, ketika guru mengajar, ia mengajar sesuai dengan garis besar program pengajaran sebagaimana terdapat dalam kurikulum.
Dalam tindak mengajar, terdapat proses transfer dari guru kepada siswa. Jadi, tindakan mengajar lebih berurusan dengan penyampaian materi pelajaran sehingga siswa dapat memahami isi kurikulum yang mesti mereka pelajari. Hasil ajaran ini lantas diuji melalui proses evaluasi untuk melihat apakah siswa itu dapat menguasai materi yang diajarkan atau belum.
Mendidik memiliki konotasi yang lebih luas, tidak sekadar menyampaikan materi pelajaran. Karena itu, mendidik juga tidak sekadar berurusan dengan menyampaikan materi pelajaran. Guru mendidik dengan cara menghadirkan diri mereka secara utuh di hadapan siswa dan dengan itu siswa merasakan kehadiran guru sebagai sosok yang istimewa, sebagai pribadi yang memberikan inspirasi dan rasa hormat.
Guru menjadi teman, sahabat, pengajar, rekan kerja, pendamping, orang tua, dan semua kemampuan individu yang memungkinkan proses belajar di sekolah berjalan dengan baik, di dalam maupun di luar kelas. Kegiatan mendidik berkaitan dengan eksistensi keseluruhan individu dalam relasinya dengan orang lain dan lingkungannya. Untuk itu, mendidik tidak dapat dibatasi oleh kegiatan di dalam kelas.
Seiring perkembangan kehidupan yang semakin kompleks, kadang guru terjebak pada kehidupan materialistik. Hal ini membuat Aris Setiawan membagi guru menjadi tiga kategori, yaitu guru nyasar, bayar, dan sadar. (Republika, 9/12).
Guru nyasar, sosok yang hanya melihat guru sebuah profesi alternatif di tengah kesulitan mencari kerja. Tipe ini yang penting adalah bekerja, memberikan materi seadanya, pasang muka killer, dan selalu memarahi muridnya dengan kata-kata yang tidak seharusnya.
Guru bayar, memiliki tipikal pada awal bulan penuh semangat mengajar, dan pada akhir bulan lemas. Guru kategori ini biasanya tidak pernah menghafal nama anak didiknya. Bila diumpamakan, ada uang aku sayang, tidak ada uang aku melayang.
Guru sadar, sosok pendidik yang mampu memosisikan diri sebagai orang tua. Anak didik dianggap sebagai anak kandung sendiri. Ia sadar bergaji kecil, tapi lebih mengharapkan gaji yang cair di akhirat. Ia juga kenal dekat dengan siswa dan orang tuanya. Guru kategori ini mampu menyenangkan dan menggerakkan semangat siswanya. Guru sadar ini mampu memerankan dirinya sebagai sosok sebagaimana diuraikan Eric Hoyle dalam bukunya, The Role of Teacher.
Muhammad Atiyah al-Abrasyi, Abdurrahman an-Nahlawi, dan Imam al-Ghazali menambahkan sifat-sifat yang dimiliki sosok guru sadar, yaitu zuhud, kebersihan diri, ikhlas, pemaaf, kebapak-bapakan, mengetahui tabiat anak didik, menguasai mata pelajaran, bersifat rabbani, sabar, jujur, senantiasa membekali diri dengan ilmu, mampu menggunakan berbagai metode mengajar, mampu mengelola anak didik, mengetahui keadaan psikis anak didik, memiliki kepekaan dalam mengantisipasi perkembangan yang terjadi, bersifat adil, tidak meninggalkan nasihat, tidak berlaku kasar, tidak menjelek-jelekkan ilmu yang lain di depan anak didik, tidak mengajarkan sesuatu di luar kemampuan anak didik, mengajarkan pelajaran secara jelas, dan hendaknya pendidik mengamalkan ilmunya.
Wahai bapak dan ibu guru, termasuk tipe guru manakah kita: nyasar, bayar, ataukah sadar?

•Republika, Guru Menulis, 14/12-2011

Menjadi Guru yang Dicintai

Jika seorang guru memiliki beberapa metode pengajaran yang baru dan memikat, maka ia akan menjadi seorang guru yang dirindukan oleh murid-muridnya. Mereka akan menerima pelajaran yang diberikan dengan hati senang dan antusias. Sehingga, ia menajdi seorang guru yang dicintai murid-muridnya, dan hendaknya dia juga menyayangi mereka. Tidak diragukan lagi, guru yang tidak memiliki sifat kasih terhadap murid, maka ia tidak akan bertahan lama menekuni profesi sebagai seorang guru –kecuali karena terpaksa. Ketenangan hati dan sifat menerima antara guru dan murid-muridnya adalah unsur terpenting dalam proses pendidikan yang sukses.
Pendapat Para Cendekiawan tentang Guru yang Dicintai
Daniel Comiza berpendapat bahwa guru yang dicintai adalah sosok yang menerima dengan tulus dan berbahagia –sebelum segala sesuatu- sebagai manusia. Hal ini akan menjadikan dirinya lebih bisa memahami murid-muridnya dan berinteraksi baik dengan mereka. Bahkan, ia akan bangga dengan kemampuan dan keahlian yang dimiliki, serta senang dengan kondisi yang ada di sekitarnya. Hal itu diwujudkannya dengan membantu dan membimbing para murid dengan baik lagi tulus. Dan juga ia berinteraksi dengan semua orang dengan baik dan sikap mulia.
Flandrez berpendapat bahwa ada beberapa sifat yang harus dimiliki seseorang jika ia ingin menjadi seorang guru yang bangga dengan dirinya dan dicintai oleh murid-muridnya. Sifat yang paling dibutuhkannya adalah menerima orang lain, tenang atau bisa mengendalikan emosi, ramah, murah senyum, sabar, dan mampu untuk melakukan tugas-tugas yang menjadi tanggung jawabnya.
Murze berpendapat bahwa guru yang dicintai adalah seorang guru yang memiliki sifat ramah dalam berinteraksi kepada sesama, memahami orang lain, menghormati tanggung jawab, disiplin dalam sikap dan tugas-tugasnya, dan mampu berinisiatif dan inovatif.
Sebuah penelitian di Amerika yang dilakukan oleh para ilmuwan Amerika, yang dipimpin oleh Hart Adams menegaskan bahwa ada tiga kelompok yang menjadi sebab seorang guru dicintai murid-muridnya. Tiga kelompok tersebiut adalah:
Kelompok pertama
  • Sikap tolong menolong dengan loyalitas tinggi
  • Menjelaskan pelajaran dengan baik
  • Menggunakan perumpamaan atau contoh dalam menjelaskan.
Kelompok kedua
  • Berbudi pekerti baik
  • Cerdas dan cekatan
  • Mampu membuat suasana di dalam kelas menjadi hangat dan menyenangkan
Kelompok ketiga
  • Arif dan lemah lembut terhadap murid-muridnya
  • Peka terhadap perasaan murid-muridnya
  • Merasa bahwa murid-muridnya adalah teman-temannya
Dr. Kamal Dasuki dalam bukunya yang berjudul “Belajar dan Mengajar” menjelaskan tentang beberapa simpulan dari berbagai riset yang dilakukan oleh para peneliti Barat yang diberi tajuk “Siapakah guru yang dicintai menurut para murid?” Diantara penelitian tersebut adalah sebagai berikut:
Riset yang dilakukan Robert Rowen. Dia berpendapat bahwa guru yang dicintai tidak boleh tidak harus melakukan hal-hal berikut ini:
  • Menjadikan pengajaran sebagai sesuatu yang dirindukan.
  • Menguasai dengan sangat baik materi pelajaran yang menjadi spesifikasinya.
  • Mampu berbicara dengan semangat dan penuh antusiasme.
  • Mampu menyusun dan menertibkan materi ilmiah.
  • Memotivasi dan mensupport murid-muridnya.
  • Memiliki jiwa humoris.
  • Perhatian terhadap murid-muridnya.
  • Kata-katanya mampu memberikan kenyamanan dalam jiwa.
  • Bersih dan rapi dalam berpakaian.
Riset yang dilakukan Donale Viera menjelaskan, bahwa guru yang dicintai adalah orang yang:
  • Menjadikan pengajaran sebagai sesuatu yang dirindukan
  • Mengenal dan memahami pelajaran diajarkan dengan baik
  • Logis dalam tugas-tugasnya
  • Memberikan kesempatan kepada murid untuk berdiskusi dan bertanya
  • Memberikan jawaban-jawaban yang masuk akal
  • Penjelasannya mudah dipahami
  • Tidak melukai hati murid-muridnya
  • Memiliki jiwa humoris
Sedangkan Lamzon dalam risetnya menyebutkan bahwa seorang guru akan dicintai bila ia memiliki karakter:
  • Sangat mendalami materi yang menjadi spesifikasinya
  • Memiliki ketrampilan yang baik dalam mengajar
  • Memiliki jiwa yang memikat dalam menjelaskan pelajaran
  • Moderat dan tidak memihak
  • Mampu berinteraksi baik dengan murid-muridnya
  • Memiliki sifat ikhlas dan jujur
  • Humoris
  • Penampilannya rapi dan bersih
Kemudian, Hart juga menambahkan bahwa guru yang dicintai adalah guru yang memiliki sifat:
  • Menjelaskan pelajaran dengan gamblang dan menggunakan contoh
  • Berjiwa humoris dan periang
  • Sosok yang penuh kasih, hingga kita merasa bahwa dia menjadi bagian dari keluarga kita
  • Mampu menggairahkan murid untuk giat belajar.
  • Menghormati tata tertib dalam kelas dan menghargai murid-muridnya
  • Memperhatikan murid-muridnya dan memahami keadaan mereka.
  • Tidak memihak dan bersikap moderat.
  • Tidak pemarah
  • Sabar, penuh kasih-sayang dan peka terhadap lingkungan
  • Adil dalam bersikap dan memberikan penghargaan kepada murid-muridnya
Itulah beberapa pendapat yang dikemukakan oleh para cendekiawan tentang beberapa sikap yang harus dimiliki oleh seorang guru agar ia senantiasa dicintai oleh murid-muridnya.
Sekarang, bagaimana dengan Anda wahai para guru? Adakah keinginan dalam diri Anda untuk menjadi guru yang dicintai oleh murid-muridnya sepanjang masa? Dan seberapa banyak sifat atau karakter yang saya tulis di atas yang kini Anda miliki?