Kita adalah Para Juara

Belajar sungguh-sungguh, hormat kepada Bapak/Ibu guru, dan beribadah kepada Rabbul Izzati, Allah SWT adalah cara kami menjadi generasi emas islam.

Kami selalu ingin menjadi mitra yang baik

Belajar tidak hanya di sekolah. Jauh lebih penting kita belajar tentang kehidupan yang sesungguhnya. "Sebaik-baik manusia ialah yang paling bermanfaat untuk orang lain".

Berprestasi adalah tradisi kami

Allah menciptakan manusia untuk berprestasi. Dan berprestasi di hadapan Allah jauh lebih luar biasa. Do'akan kami untuk terus mengukir prestasi terbaik di dunia dan akhirat. "SDIT Izzatul Islam Berhitmad untuk Ummat".

Kami juga bersahabat dengan alam

Allah lebih menyukai orang-orang kuat daripada yang lemah. Muslim prestatif, taat, dan kuat. Allahu Akbar!!

Puncak tertinggi kan kami daki

Hidup di dunia hanya sekali. Berjuang dan ber-azzam-lah untuk senantiasa dalam kebaikan! Akan kami raih puncak tertinggi itu ya Allah, "Izzatul Islam".

Tampilkan postingan dengan label Wacana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wacana. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 Februari 2014

Ke Mana Perginya Air?

oleh: Lilis Setyowati, S.Pd.
Musim hujan telah tiba, sehingga matahari jarang sekali menampakkan keceriaannya dari hari ke hari. Para  orang tua mengeluh tentang banyaknya cucian basah yang tak kunjung kering karena cuaca mendung. Tapi,  kenapa ya...? walau cuaca mendung dengan suhu yang rendah lama kelamaan baju yang dijemur tingkat kadar air nya akan semakin berkurang, lalu kemana perginya air yang membasahi cucian tadi ...?
Air tadi tidak menghilang, air hanya akan selalu berpindah tempat dari satu tempat ke tempat yang lain, perpindahan tersebut melalui berbagai proses  yaitu perubahan wujud. Perubahan wujud ada 5 macam yaitu mencair, mengembun, menyublim, membeku dan menguap. Naahhh ... perubahan wujud yang terjadi pada cucian yang basah adalah penguapan. Air yang terdapat di serat – serat kain akan menguap menjadi gas. Semakin tinggi suhu air, akan membuat air semakin cepat menguap. Jadi wujud cair tadi akan berubah menjadi uap.

Naaahhhhh .....peristiwa perputaran air disebut siklus air. Jadi dimuka bumi ini air akan mengalami peristiwa perputaran, yang tidak akan menyebabkan air akan habis terpakai. Air hanya berubah wujud.

POJOK BAHASA

Oleh: Niken Nugrahaningsih, S.Pd.
Dalam kolom ini kita akan membahas istilah-isltilah yang sering kita temui, bahkan kita gunakan sehari-hari. Yang menarik kita akan berusaha menyampaikan dalam 4 bahasa, yaitu bahasa Jawa, Indonesia, Inggris, dan Arab. Untuk edisi awal kita akan membahas 5 istilah saja terkait dengan karakter anak yang kita harapkan.
·         Jujur dalam bahasa Jawa adalah blaka, menjadi honest dalam bahasa Inggris dan sidiq dalam bahasa Arab.
·         Bertanggung jawab dalam bahasa Jawa adalah tanggung jawab, be responsible dalam bahasa Inggris, dan dalam bahasa arab adalah mas’uliyah
·         Suka menolong menjadi seneng aweh pitulungan dalam bahasa Jawa, helpful dalam bahasa Inggris, dan yuhibbul musa’adah dalam bahasa Arab.
·         Hormat dalam bahasa jawa adalah kurmat, respect dalam bahasa Inggris dan ihtiram dalam bahasa Arab.
·         Bersungguh-sungguh berarti tenanan dalam bahasa Jawa, make a serious effort dalam bahasa Inggris dan dalam bahasa Arab adalah mujahidun linafsihi

Demikian 5 istilah yang bisa kita pelajari, semoga bermanfaat.

Kabeh Kudu Ngaji

oleh: Sri Wahyuni, S.Ag.

اطلب العلم من المهد الى اللهد  artinya tuntutlah ilmu dari buaian sampai ke liang lahat ( Hr. muslim ) dari hadis di atas jelas sekali bahwa kewajiban menuntut ilmu tidak dibatasi oleh apapun baik jenis kelamin, usia ataupun daerah. Semua orang berkewajiban untuk mencari ilmu selama desah nafas masih terasa. Betapa pentingnya ilmu sehingga Allah menjanjikan akan mengangkat  orang-orang yang beriman dan berilmu beberapa derajat. Bahkan dalam surat … Allah SWT berfirman :” apakah sama orang-orang yang tahu dan yang tidak tahu? “
Sungguh luar biasa perbedaan antara  orang-orang yang berilmu dengan orang-orang yang tidak berilmu, sebab orang berilmu mereka beramal karena ilmunya sedangkan orang yang tidak berilmu mereka beramal karena ketidaktahuannya.
Keutamaan-keutamaan ilmu antara lain :
1.      Pertanda orang yang memiliki rasa cinta dan takut kepada Allah SWT.
Sudah seharusnya orang yang memiliki ilmu itu semakin tawadhu’ dalam kehidupannya dan rasa cinta dan takutnya kepada Allah semakin besar.
2.      Jihad ( bersungguh-sungguh )
Sahabat mu’adz bin Jabal mengatakan bahwa,” sesungguhnya menuntut ilmu itu termasuk jihad fisabilillah.”
3.      Dengan ilmu seseorang dapat menggapai derajat disisi Allah SWT
Seseorang akan beramal dengan benar  manakala didasari dengan ilmu. Ibarat ilmu itu adalah imam sedangkan amal adalah makmum atau yang mengikuti.
4.      Dengan ilmu seseorang akan mendapatkan kemuliaan di dunia maupun diakhirat.
Dalam sebuah hadis rasulullah bersabda, “ Barang siapa yang menginginkan kehidupan dunia maka, harus dengan ilmu, dan barang siapa yang menginginkan kehidupan akhirat maka, juga dengan ilmu, dan barang siapa yang menginginkan keduanya maka itu juga dengan ilmu.”
5.      Dapat menyelamatkan dirinya dan orang lain
Orang yang memiliki ilmu ketika memberi nasehat atau memberitahu orang lain berdasarkan ilmu sehingga tidak menyesatkan orang lain, sementara orang yang tidak berilmu memberi tahu orang lain atau menasehati orang lain berdasarkan ketidaktahuannya atau kayaknya dan ini bias menyesatkan.

Karena keutamaan ilmu yang sedemikian luar biasa, maka kami ( civitas sdit ) berusaha untuk senantiasa mendorong diri kami dan juga seluruh komponen yang berperan di sekolah untuk tak pernah bosan-bosannya menambah ilmunya ( dengan mengikuti pengajian ). Kegiatan semacam ini sudah kami lakukan untuk para guru, karyawan, sopir  anak-anak SDIT  , alumni SDIT, maupun sebagian orang tua murid SDIT. Inilah salah satu program “GERAKAN MENGAJI UNTUK SEMUA”

Besar harapan kami dan insya Allah kami siap untuk membantu bapak ibu wali murid SDIT Izzatul islam ikut mensukseskan gerakan ini.

Tiga Pilar Pendidikan Karakter Anak

Oleh: Sutrimo, S.Pd.

Pendidikan karakter akhir-akhir ini menjadi pembicaraan utama didunia pendidikan. Padahal ketika kita melihat kebelakang, ternyata pendidikan karakter sudah ada sejak Nabi Muhammad SAW. Kita lihat karakter atau akhlaq beliau diakui oleh mata dunia, hingga detik ini kita bisa merasakan karakter yang beliau contohkan. Yayasan Izzatul Islam Getasan sebagai lembaga pendidikan islam sudah mempersiapkan pendidikan karakter sejak awal, bahkan sekarang dipertajam melalui Kurikulum 2013.
Pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti plus, yaitu yang melibatkan aspek pengetahuan, perasaan, dan tindakan. Tanpa ketiga aspek ini, maka pendidikan karakter tidak akan efektif, dan pelaksanaannya pun harus dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan. Dengan pendidikan karakter, seorang anak akan menjadi cerdas emosinya. Kecerdasan emosi adalah bekal terpenting dalam mempersiapkan anak menyongsong masa depan, karena dengannya seseorang akan dapat berhasil dalam menghadapi segala macam tantangan dalam hidupnya.
Seorang siswa, jika ingin mendapatkan pendidikan yang layak, tentunya harus didukung oleh tiga pilar yaitu keluarga, sekolah dan masyarakat. Tiga pilar ini harusnya memiliki kekuatan yang baik sehingga siswa tidak mengalami goncangan hebat dalam perjalanannya menuntut ilmu. Kalaupun nantinya siswa mendapat goncangan, maka tidak akan menjadi masalah yang berat, karena masing-masing pilar berusaha untuk membantu siswa menghadapi goncangan tersebut.
Pilar pertama Keluarga. Secara umum orangtua pasti sudah menanamkan karakter anak yang baik sejak kecil. Baik dalam artian memiliki sikap yang baik, mampu mengambil keputusan dengan langkah-langkah yang baik, kuat dalam berfikir, memiliki tujuan hidup yang jelas dan mampu menjalankan step by stepnya. Nah, kalau orangtuanya bisa membentuk anak seperti ini, enak kan? Si anak sudah disiapkan buat menghadapi tantangan di zamannya besok saat dia dewasa.Kalau sudah begini, maka mau tidak mau, orangtua harus berfikiran terbuka. Terbuka dengan segala informasi lama dan terbaru, terbuka dengan perkembangan zaman, terbuka dengan perubahan sikap anak. Perlu diingat, perilaku atau karakter orangtua akan ditiru oleh anaknya. Seperti pepatah jawa mengatakan “kacang ora ninggal lanjaran”. Maka berhati-hatilah dalam mendidik anak.
Pilar kedua Sekolah. Sekolah sekarang harusnya bukan lagi sekolah yang bisa meluluskan siswanya dengan nilai akademik yang bagus-bagus tapi juga mampu meluluskan siswanya dengan karakter yang baik dan kuat. Artinya, semua orang di dalam lingkup sekolah, harus memberikan contoh atau karakter yang bagus. Kepala sekolah, guru, bagian tata usaha, tukang kebun, bagian kebersihan, sopir, bagian konsumsi, komite sekolah dan lain sebagainya menjadi bagian pembentukan karakter anak.
Pilar ketiga Lingkungan sekitar siswa (masyarakat). Lingkungan ini bukan hanya di sekitar keluarga dan sekitar sekolah saja tetapi lebih luas lagi. Yaitu lingkungan luar yang terjangkau siswa dalam bentuk berita. Baik berita yang biasa dilihat (televisi, koran, atau kejadian langsung) dan berita yang biasa didengar (radio, gosip tetangga, obrolan antar teman). Kok sebegitu luasnya? Ya jelas, perkembangan teknologi seperti HP dan internet cepat sekali. Informasi yang mereka dapat juga cepat, mudah, banyak dan beragam. Artinya, seharusnya masyarakat itu memfilter sendiri supaya siswa kita ini tidak ditunjukkan dengan berita-berita yang sifatnya melemahkan karakter.

Insya Allah dengan ketiga pilar ini kita tegakkan bersama-sama, kita akan memiliki anak yang cerdas, mulia, mandiri dan menjadi kebanggaan kita bersama, amiin.  

Rabu, 16 Januari 2013

Jangan Sebut Anak Anda “Nakal”

Cahyadi Takariawan
Ust. Cahyadi Takariawan
“Anak saya ini nakal sekali”, kata seorang ibu.
“Kamu itu memang anak nakal”, kata seorang bapak.

Kalimat itu sering kita dengarkan dalam kehidupan sehari-hari. Sangat sering kita mendengar orang tua menyebut anaknya dengan istilah nakal, padahal kadang maksudnya sekadar mengingatkan anak agar tidak nakal. Namun apabila anak konsisten mendapatkan sebutan nakal, akan berpengaruh pada dirinya.
Predikat-predikat buruk memang cenderung memiliki dampak yang buruk pula. Nakal adalah predikat yang tak diinginkan oleh orang tua, bahkan oleh si anak sendiri. Namun, seringkali lingkungan telah memberikan predikat itu kepada si anak: kamu anak nakal, kamu anak kurang ajar, kamu anak susah diatur, dan sebagainya. Akibatnya, si anak merasa divonis.
Hindari Sebutan Nakal
Jika tuduhan nakal itu diberikan berulang-ulang oleh banyak orang, akan menjadikan anak yakin bahwa ia memang nakal. Bagaimanapun nakalnya si anak, pada mulanya tuduhan itu tidak menyenangkan bagi dirinya. Apalagi, jika sudah sampai menjadi bahan tertawaan, cemoohan, dan ejekan, akan sangat menggores relung hatinya yang paling dalam. Hatinya luka. Ia akan berusaha melawan tuduhan itu, namun justru dengan tindak kenakalannya yang lebih lanjut.
Hendaknya orang tua menyadari bahwa mengingatkan kesalahan anak tidak identik dengan memberikan predikat “nakal” kepadanya. Nakal itu —di telinga siapa pun yang masih waras— senantiasa berkesan negatif. Siapa tahu, anak menjadi nakal justru lantaran diberi predikat “nakal” oleh orang tua atau lingkungannya!
Mengingatkan kesalahan anak hendaknya dengan bijak dan kasih sayang. Bagaimanapun, mereka masih kecil. Sangat mungkin melaku­kan kesalahan karena ketidaktahuan, atau karena sebab-sebab yang lain. Namun, apa pun bentuk kenakalan anak, biasanya ada penyebab yang bisa dilacak sebagai sebuah bahan evaluasi diri bagi para pendidik dan orang tua.
Banyak kisah tentang anak-anak kecil yang cacat atau meninggal di tangan orang tuanya sendiri. Cara-cara kekerasan yang dipakai untuk menanggulangi kenakalan anak seringkali tidak tepat. Watak anak sebenarnya lemah dan bahkan lembut. Mereka tak suka pada kekerasan. Jika disuruh memilih antara punya bapak yang galak atau yang penyabar lagi penyayang, tentu mereka akan memilih tipe kedua. Artinya, hendaknya orang tua berpikiran “tua” dalam mendidik anak-anaknya, agar tidak salah dalam mengambil langkah.
Sekali lagi, jangan cepat memberi predikat negatif. Hal itu akan membawa dampak psikologis yang traumatik bagi anak. Belum tentu anak yang sulit diatur itu nakal, bisa jadi justru itulah tanda-tanda kecerdasan dan kelebihannya dibandingkan anak lain. Hanya saja, orang tua biasanya tidak sabar dengan kondisi ini.
Ungkapan bijak Dorothy Law Nolte dalam syair Children Learn What They Live berikut bisa dijadikan sebagai bahan perenungan,
Bila anak sering dikritik, ia belajar mengumpat
Bila anak sering dikasari, ia belajar berkelahi
Bila anak sering diejek, ia belajar menjadi pemalu
Bila anak sering dipermalukan, ia belajar merasa bersalah
Bila anak sering dimaklumi, ia belajar menjadi sabar
Bila anak sering disemangati, ia belajar menghargai
Bila anak mendapatkan haknya, ia belajar bertindak adil
Bila anak merasa aman, ia belajar percaya
Bila anak mendapat pengakuan, ia belajar menyukai dirinya
Bila anak diterima dan diakrabi, ia akan menemukan cinta.
Cara Pandang Positif
Hendaknya orang tua selalu memiliki cara pandang positif terhadap anak. Jika anak sulit diatur, maka ia berpikir bahwa anaknya kelebihan energi potensial yang belum tersalurkan. Maka orang tua berusaha untuk memberikan saluran bagi energi potensial anaknya yang melimpah ruah itu, dengan berbagai kegiatan yang positif. Selama ini anaknya belum mendapatkan alternatif kegiatan yang memadai untuk menyalurkan berbagai potensinya.
Dengan cara pandang positif seperti itu, orang tua tidak akan emosional dalam menghadapi ketidaktertiban anak. Orang tua akan cenderung introspeksi dalam dirinya, bukan sekadar menyalahkan anak dan memberikan klaim negatif seperti kata nakal. Orang tua akan lebih lembut dalam berinteraksi dengan anak-anak, dan berusaha untuk mencari jalan keluar terbaik. Bukan dengan kemarahan, bukan dengan kata-kata kasar, bukan dengan pemberian predikat nakal.
“Kamu anak baik dan shalih. Tolong lebih mendengar pesan ibu ya Nak”, ungkapan ini sangat indah dan positif.
“Bapak bangga punya anak kamu. Banyak potensi kamu miliki. Jangan ulangi lagi perbuatanmu ini ya Nak”, ungkap seorang bapak ketika ketahuan anaknya bolos sekolah.
Semoga kita mampu menjadi orang tua yang bijak dalam membimbing, mendidik dan mengarahkan tumbuh kembang anak-anak kita. Hentikan sebutan nakal untuk mendidik anak-anak.

Jangan Bersedih Jika Orang Ingkari kebaikan yang anda lakukan

(Dr. Aidh Al Qarni)
Niatkan semua amal perbuatan itu hanya karena Allah semata dan jangan pernah mengharap terima kasih dari orang lain. Jangan menjadi resah dan gundah karena ternyata orang yang anda perlakukan dengan baik justru membalas dengan perbuatan keji dan tidak menghargai “ tangan putih” yang anda ulurkan dan kebaikan yang anda berikan. Tapi carilah pahala dari kebaikan dari sisi Allah.
Allah berfirman tentang orang-orang yang dikasihi dan dipilihnya (wali-NYa)
“..Mereka mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya ….” QS AL Fath : 29
Juga tentang para Nabi-Nya
“Aku tidak meminta upah sedikitpun atas da’wahku…” QS As Shad : 8
Katakanlah “ Upah apapun  yang aku minta kepadamu, maka itu untuk untuk kamu ‘QS. As Saba : 47
“Padahal tidak ada seorangpun yang harus memberi nikmat kepadanya yang harus dibalasnya QS Al Lail : 19
´Sesungguhnya kami memberikan suatu makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasasn dari kamu dan tidak pula ucapan terima kasih QS Al Insan : 9
Seorang penyair  berkata,
Siapa yang berbuat baik tidak akan sirna pahalanya
Tidak akan sirna kebaikan di sisi Allah dan manusia
Berbuat baiklah hanya untuk Yang Maha Esa sebab hanya Dia-lah yang akan memberi pahala, Dialah yang akan memberi karunia. Allahlah yang akan menjatuhkan sanksi, melakukan perhitungan amal, dan Dia yang akan ridho dan murka. Maha Suci dan Maha Tinggi Allah..
Ketika banyak di antara sahabat yang terbunuh sebagai syuhada di kota Kandahar, maka Umarpun berkata kepada para sahabat yang tersisa,” Siapa saja yang terbunuh?” Maka disebutkan sejumlah nama ,” Dan masih banyak lagi yang tak kau kenal,” jawab para sahabat itu. Tak terasa kedua mata Umar meneteskan air mata dan berkata ,” Tapi Allah mengetahui mereka.”
Ada orang saleh yang memberikan faludzaj  kepada orang buta. . Keluarga orang yang buta berkata “ Orang yang buta tidak tahu apa yang dimakannya,” Dijawab orang yang saleh itu “Tapi Allah Mengetahui.”
Selama Allah masih melihat  dan mengetahui kebaikan yang Anda lakukan, serta mengetahui keutamaan yang Anda ulurkan , maka janganlah mengharapkan pujian dari orang lain..karena ia tidak mendatangkan pahala.  (Dr. Aidh Al Qarni)



sumber: http://www.eramuslim.com/islamic-quotes/jangan-bersedih-jika-orang-ingkari-kebaikan-yang-anda-lakukan.htm#.UPXXK_Jf9oo

Kamis, 10 Januari 2013

GURU MENULIS BUKU CERPEN (Deadline 21 Februari 2013)

 


monggo Bapak/Ibu Guru yang berminat untuk mengikuti event ini.

  

PENGANTAR
Dalam menyambut peringatan milad RA Kartini 21 April 2013, penting kiranya bagi guru untuk meneruskan dan mengembangkan perjuangan beliau dengan menulis karya kreatif berupa cerita pendek bermuatan kritik sosial. Cerpen akan diseleksi dan dijadikan antologi bersama.
Selain posisi guru yang strategis dalam dunia pendidikan (untuk sosialisasi pengetahuan dan nilai-nilai), undangan menulis cerpen ini dibuat dengan alasan mulai bangkitnya kembali talenta para guru dalam dunia tulis-menulis. Cerpen dipandang medium kreativitas yang strategis dan luwes.
Cerpen-cerpen tersebut bukan hanya perjuangan perempuan demi kesetaraan gender, melainkan juga hak domestik dan hak-hak sosial, politik, pendidikan, budaya, dan seterusnya bagi kaum perempuan.
Konflik-konflik ideologis, filosofis, dan praksis yang dialami perempuan—ketika dihadapkan pada norma-norma dan nilai kultural wanita ‘Timur’—bisa dileburkan di dalam cerpen. Dengan demikian, inilah medan perjuangan para guru lewat cerpen.
TEMA:
“Perjuangan perempuan demi kesetaraan gender, hak domestik, dan hak-hak sosial, politik, ekonomi, pendidikan, dan budaya.”

PESERTA:
Guru
WAKTU PELAKSANAAN:
7 Januari—21 Februari 2013
ALAMAT MENGIRIM:
Naskah dalam bentuk attachment (soft copy) dikirim ke blingualsite@yahoo.co.id dengan title JUDUL CERPEN-Nama Penulis.
PENGUMUMAN PEMENANG:
Pengumuman pemenang akan disampaikan di grup Gerakan Guru Menulis Buku (G2MB) pada 1 Maret 2013.
KETENTUAN-KETENTUAN
  1. Peserta adalah guru negeri dan swasta tanpa memandang gender (dibuktikan dengan fotokopi identitas diri yang sah dan meyakinkan).
  2. Peserta hanya diperbolehkan mengirimkan 1 (satu) naskah cerpen terbaiknya.
  3. Temanya: Perjuangan perempuan demi kesetaraan gender, hak domestik, dan hak-hak sosial, politik, ekonomi, pendidikan, dan budaya.
  4. Naskah cerpen bermuatan eksperimentasi, eksplorasi, dan inovasi yang unik, baik visi maupun teknik penyajian.
  5. Naskah cerpen merupakan karya sendiri, bukan saduran, terjemahan, atau plagiat.
  6. Naskah cerpen belum pernah dipublikasikan di media massa cetak dan atau elektronik, dan tidak sedang diikutkan dalam lomba/sayembara lain.
  7. Naskah cerpen diketik menggunakan huruf Time News Roman, 12 pt, spasi 1.5, dengan panjang maksimum antara 8.000-15.000 karakter atau 4-8 halaman.
  8. Biodata penulis dilampirkan pada halaman terakhir naskah, dan tidak lebih dari satu halaman—yang meliputi: Data diri, foto profil, data keorganisasian (relevan), data kepengarangan (relevan), data penghargaan (relevan), dan alamat (korespondensi dan email, no. telepon seluler). Sertakan pula scan (pindai) identitas diri.
  9. Naskah cerpen dikirim paling lambat 21 Februari 2013, pukul 23.59 WIB. Setelah Anda mengirimkan naskah, dimohon sms atau menghubungi lewat HP sekreatriat.
  10. Naskah cerpen yang dikirim menjadi milik panitia;
  11. Dewan juri akan memilih 21 naskah terbaik (jawara I, II, III, dan 18 nominie),
  12. Keputusan Dewan Juri (empat orang) bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu-gugat.
  13. Setiap penulis yang naskahnya dibukukan mendapatkan royalty dari penjualan buku (atau dari penerbit) dibagi jumlah penulis.
SEKRETARIAT
Rumah Kreatif BILINGUALSITE
Jln. Granit Kumala 4.2 No. 37-39 Perumnas Kota Baru Driyorejo
Gresik 61177
Telpon. +62-85852574070
Email: bilingualsite@yahoo.co.id
 Sumber Informasi: Much Khoiri


sumber: http://www.gurumuda.info/info-guru/guru-menulis-buku-cerpen-deadline-21-februari-2013

Selasa, 08 Januari 2013

Kabinet Indonesia Bersatu II

Baru saja di sms oleh wali murid bertanya nama-nama menteri dan ketua DPR RI. Berikut mungkin bisa menjadi referensi untuk Bapk/Ibu/Saudara dan anak-anak tercinta.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dilantik menjadi Presiden RI untuk periode kedua, 2009 - 2014, pada 20 Oktober 2009. Bersama Wakil Presiden Boediono, Presiden SBY diambil sumpahnya dalam Sidang Paripurna MPR-RI. Sehari kemudian, 21 Oktober 2009, Presiden SBY mengumumkan daftar anggota kabinet baru yang dinamai `Kabinet Indonesia Bersatu II`. Sesuai ketentuan UU No.39 Tahun 2008 tentang Kementerian Negara, jumlah kementerian tetap 34, terdiri atas 3 (tiga) Menteri Koordinator dan seorang Sekretaris Negara, 20 (duapuluh) menteri yang memimpin departemen, dan 10 (sepuluh) menteri negara.
  Pada 18 Oktober 2011, Presiden SBY mengumumkan reshuffle kabinet. Para menteri baru tersebut dilantik pada 19 Oktober 2011. Terdapat tujuh wajah baru di jajaran kementerian. Tidak semuanya baru sama sekali karena ada beberapa yang bergeser posisi. Lalu, ada penambahan fungsi pada dua kementerian sehingga nama lembaganya pun berubah. Keduanya adalah Kementerian Pendidikan Nasional yang kini menjadi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, lalu Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata berubah menjadi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.
  Berikut susunan Kabinet Indonesia Bersatu II selengkapnya:

 
Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono
Presiden Republik Indonesia
www.presidensby.info
  Prof. Dr. Budiono, M.Ec
Wakil Presiden Republik Indonesia
www.setwapres.go.id
     
Marsekal TNI (Purn) Djoko Suyanto
Menteri Koordinator
Politik, Hukum dan Keamanan
www.polkam.go.id
 
Ir. Hatta Rajasa
Menteri Koordinator
Perekonomian
www.ekon.go.id

Dr. H.R. Agung Laksono
Menteri Koordinator
Kesejahteraan Rakyat
www.menkokesra.go.id
  

Letjen TNI (Purn) Sudi Silalahi
Menteri Sekretaris Negara
www.setneg.ri.go.id

Gamawan Fauzi SH,MS
Menteri Dalam Negeri
www.depdagri.go.id
     
Dr. Raden Mohammad Marty Muliana Natalegawa, M.Phil, B.Sc
Menteri Luar Negeri
www.deplu.go.id
EE Mangindaan,SIPMenteri Perhubungan
www.dephub.go.id
Prof.Dr.Ir. Muhammad NuhMenteri Pendidikan dan Kebudayaan
www.depdiknas.go.id
     
Prof. Dr. Ir. Purnomo Yusgiantoro
Menteri Pertahanan
www.dephan.go.id
Ir.Mohamad Suleman HidayatMenteri Perindustrian
www.dprin.go.id
Dr.H. Salim Segaf Al-Jufrie
Menteri Sosial
www.depsos.go.id
     
Amir SyamsudinMenteri Hukum dan HAM
www.depkehham.go.id
Gita WirjawanMenteri Perdagangan
www.depdag.go.id
Drs. H. Suryadharma Ali
Menteri Agama
www.depag.go.id
     
Ir. H. Tifatul Sembiring
Menteri Komunikasi dan Informatika
www.depkominfo.go.id
Ir. H. Suswono, MMA
Menteri Pertanian
www.deptan.go.id
Dr. Mari E. PangestuMenteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif
www.budpar.go.id
     
Basrief Arief
Jaksa Agung
www.kejaksaan.go.id
Zulkifli Hasan, SE, MM
Menteri Kehutanan
www.dephut.go.id
Balthazar KambuayaMenteri Negara Lingkungan Hidup
www.menlh.go.id
     
Agus D.W. Martowardojo
Menteri Keuangan
www.depkeu.go.id
Ir. Jero Wacik, SE
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral
www.esdm.go.id
Linda Amalia Sari, SipMenteri Negara Pemberdayaan Perempuan
www.menegpp.go.id
     
Nafsiah Mboi
Menteri Kesehatan
www.depkes.go.id
Syarif Cicip Sutardjo
Menteri Kelautan dan Perikanan
www.dkp.go.id
Azwar Abubakar
Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara
www.menpan.go.id
     
Ir. H. Ahmad Helmy Faishal ZainiMenteri Negara Pembangunan Daerah Tertinggal
www.kemenegpdt.go.id
Drs H. A. Muhaimin Iskandar, MSiMenteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi
www.nakertrans.go.id
Djan FaridzMenteri Negara Perumahan Rakyat
www.kemenpera.go.id
     

Dr. Syariefuddin HasanMenteri Negara Koperasi dan UKM
www.depkop.go.id
Ir. Djoko Kirmanto, Dipl. HE
Menteri Pekerjaan Umum
www.pu.go.id
-
Menteri Negara Pemuda dan Olahraga
     
Dahlan IskanMenteri Negara Badan Usaha Milik Negara
www.bumn-ri.com
Prof. Dr. Armida AlisjahbanaMenteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala BAPPENAS
www.bappenas.go.id
Prof.Dr.Ir. H. Gusti Muhammad HattaMenteri Negara Riset dan Teknologi/Kepala BPPT
www.ristek.go.id

Soal Kurikulum SD, Pemerintah Diminta Tengok India-Pakistan

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di Belanda minta Pemerintah memberi masukan dengan meminta mencermati 'good practices' yang dikembangkan dalam sistem pendidikan Belanda. Selain itu, mereka juga mengharapkan mata pelajaran bahasa Inggris tetap dipertahankan dalam kurikulum SD.
"Pemerintah Indonesia hendaknya juga mencermati 'good practices' dari negara India dan Pakistan dalam mendesain bahasa Inggris sebagai pelajaran yang diberikan sejak awal," demikian hasil dari forum diskusi yang diselenggarakan Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Belanda di Utrecht, Belanda menyambut tahun baru 2013.
Ketua Bidang Media Informasi dan Komunikasi PPI Belanda, Ryvo Octaviano kepada ANTARA London, Ahad (6/1) mengatakan forum diskusi yang digelar di Aula Stichting Generasi Baru, Utrecht, dihadiri tidak saja pelajar Indonesia yang tengah menuntut ilmu tetapi juga masyarakat Indonesia di Belanda yang memberikan pandangan dan masukan terkait dengan rencana pemerintah memperbaiki kurikulum SD tahun 2013.
Dikatakannya forum mengapresiasi langkah pemerintah yang membuka peluang kepada publik untuk berpartisipasi pada pengambilan kebijakan kurikulum 2013 yang terkait dengan penambahan atau pengurangan jam pelajaran tertentu, serta konsep pembelajaran yang difokuskan dalam diskusi pada hanya empat pelajaran yaitu PPKn, matematika, IPA dan Bahasa Inggris.
"Melihat keseriusan negara lain menanamkan pelajaran bahasa Inggris untuk siswanya, dan pentingnya bahasa Inggris, pemerintah perlu memastikan pelajaran ini sudah didapatkan siswa sejak awal SD," ujarnya.
Menurut Ryvo Octaviano, forum diskusi dalam pembahasannya lebih memfokuskan pada empat mata pelajaran yaitu PPKn, matematika, IPA dan Bahasa Inggris dan memandang bahwa pelajaran pendidikan kewarganegaraan untuk anak SD dapat dilebur bukan berarti forum tidak mendukung program pendidikan karakter, tetapi agar diskusi lebih fokus dibahas dalam diskusi hanya empat pelajaran.
Forum justru merekomendasikan agar pelajaran kewarganegaraan tidak bersifat doktrinal, melainkan lebih implementatif dan menggunakan pendekatan heart touching, karena mata pelajaran PPKn, selama ini hanya bersifat menghapal tidak menekankan implementasinya, untuk itu forum merekomendasikan Pemerintah mencermati good practices pendidikan yang dikembangkan di sistem pendidikan di Belanda.
Siswa SD di Belanda tidak diminta menghapal arti atau definisi kebaikan seperti tolong menolong atau membantu orang susah, namun langsung melakukan langkah konkrit. Seperti berkorespondensi dengan para veteran perang atau mereka yang kehilangan keluarga akibat korban perang dunia.
Siswa akan dapat merasakan bagaimana perasaan veteran kehilangan anggota tubuhnya, atau bagaimana perasaan masyarakat kehilangan keluarga akibat perang. Dengan berkomunikasi siswa belajar berempati secara langsung dan dengan bimbingan guru mengarahkan penggalangan dana untuk anak-anak yang orang tuanya korban perang.
Selain itu siswa diarahkan melakukan pekerjaan keterampilan seperti membuat kue untuk dijual kepada masyarakat dan uangnya disumbangkan untuk legiun veteran dan keluarga. Forum berpendapat, contoh yang baik yang dapat menjadi rujukkan sebagai ruh pelajaran kewarganegaraan tanpa harus melembagakannya dengan mata pelajaran PPKn.
Forum menilai siswa SD kerap mendapatkan repetisi pelajaran, karena kurikulum yang terlampau berat misalnya materi matematika-statistika. Mata pelajaran tersebut tidak dapat diberikan secara tuntas akibatnya materi yang sama kembali diulang dan akan terjadi repetisi di jenjang pendidikan selanjutnya.
Untuk itu forum menyarankan agar konten kurikulum dievaluasi, dan materi yang dipandang dapat bersifat ulangan, akan time consuming, untuk itu dapat dihilangkan.
Sementara forum juga mengharapkan pemerintah tidak menghapus mata pelajaran IPA pada kurikulum anak SD, dan menganjurkan agar materi diberikan menggunakan pendekatan aspek eksperimental seperti bermain dengan alam atau alat peraga.
Forum meyakini, hal ini akan bermanfaat bagi siswa karena dapat merangsang inquisitive minds (IM) -jiwa yang terusik untuk belajar dan mencari tahu ilmu yang dapat menanamkan minat terhadap sains.
Format serupa juga dilakukan Malaysia yang berdasarkan informasi yang diperoleh PPI Utrecht dari pelajar Malaysia di Belanda, diketahui kurikulum pendidikan Malaysia disusun pada zaman Mahathir Mohammad yang menekankan pendidikan bahasa Inggris yang dapat menerbitlah adagium, siswa di Malaysia yang menyebutkan boleh gagal di semua pelajaran, namun tidak boleh gagal di bahasa inggris.
Forum menilai kesuksesan implementasi kurikulum tidak hanya bertumpu pada substansi kurikulum yang ada, tapi lebih kepada kualitas implementator di lapangan , oleh karena itu menyarankan kepada Pemerintah bahwa kualitas guru perlu diperhatikan.
Sementara itu buku pelajaran hendaknya berisi link atau informasi tentang pengetahuan yang bisa di dapatkan guru dan siswa dari internet, sebagai tambahan materi informasi, baik yang sifatnya hiburan informatif maupun sebagai materi. Demikian pandangan dan masukan pelajar dan masyarakat Belanda terhadap kebijakan kurikulum 2013 khususnya untuk sekolah dasar dan bermanfaat bagi masyarakat dan pembuat kebijaksanaan.
Redaktur: Djibril Muhammad
 
 
sumber: http://www.republika.co.id/berita/pendidikan/eduaction/13/01/06/mg6v5z-soal-kurikulum-sd-pemerintah-diminta-tengok-indiapakistan

Sabtu, 05 Januari 2013

Agar Anak Tidak Malas Belajar

Saat mendengar kata "belajar", banyak anak yang enggan untuk melakukannya. Simak saja Ibu Shelly yang selalu teriak-teriak dahulu untuk menyuruh anaknya belajar. "Anak saya itu kalau sudah disuruh belajar, selalu ngumpet. Kalau sudah ketemu, dia lari bersembunyi di tempat lain. Sampai rasanya jengkel sekali," begitu katanya. Sebagai orang tua tentunya kita ingin agar anak kita menjadi pintar dan tidak ketinggalan pelajaran, tetapi bagaimana caranya supaya anak mau disuruh belajar? Dibawah ini merupakan beberapa tips agar anak agar tidak malas belajar:
1. Jadilah contoh yang baik buat anak.
Orang tua merupakan panutan dari anaknya, oleh karena itu kita harus memberikan contoh terbaik agar ditiru oleh anak. Saat orang tua menyuruh dan mengawasi anak belajar, usahakan agar Anda juga terlihat seperti mempelajari sesuatu, misalnya dengan membaca buku. Sesekali ajak anak Anda untuk berdiskusi mengenai suatu topik yang hangat. Dengan begitu anak melihat bahwa orang tuapun ikut belajar.
2. Pilihlah waktu belajar yang baik.
Ketika anak merasa capek, ia akan enggan untuk melakukan apa saja. Oleh karenanya, coba pilihlah waktu yang tepat dimana anak sedang merasa segar untuk melakukan sesuatu, termasuk kegiatan belajar. Anda dapat mencoba di sore hari saat anak sudah mandi sore.
3. Buatlah jadwal belajar.
Anak cenderung untuk melakukan sesuatu yang pasti. Dengan membuat jadwal belajar secara rutin, anak akan mengerti bahwa jam yang ditentukan tersebut merupakan waktunya untuk belajar.
4. Kenali daya konsentrasi anak Anda.
Setiap anak memiliki daya konsentrasi yang berbeda-beda. Coba amati anak Anda, apakah ia tipe anak yang dapat berkonsentrasi selama 2 jam penuh atau hanya 30 menit. Apabila anak Anda merupakan tipe daya konsentrasi pendek, berikan istirahat sejenak disela-sela waktu belajar, setelah itu, anak dapat meneruskan kegiatan belajarnya lagi.
5. Berikan bantuan saat anak membutuhkannya.
Saat mengerjakan PR, kadang anak menemui soal yang sulit untuk dikerjakannya. Coba berikan bantuan saat ia membutuhkannya dengan cara menjelaskan bagaimana untuk menyelesaikan soal tersebut. Dengan begitu, anak dapat mengetahui bagaimana cara mengerjakannya tanpa harus terjebak di soal yang sulit.
Semoga tips diatas dapat membantu dan mudah-mudahan Ibu Shelley tidak perlu teriak-teriak dan kejar-kejaran dengan anaknya lagi ...

Sumber : /www.duniabelajar.com

Empat Pilar Membentuk Karakter Anak Islam

Kegiatan Outing Class di Polsek Getasan
Anak merupakan investasi masa depan orangtua, di dunia maupun di akhirat. Karenanya, orangtua perlu berikhtiar untuk mendidik anaknya dengan baik, agar bisa tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter. Bagaimana caranya?

Setidaknya ada empat pilar penting dalam membentuk karakter anak muslim. Pertama adalah pentingnya mengintegrasikan nilai-nilai Islam ke dalam seluruh aspek kehidupan. Di rumah, nilai-nilai Islam harus termanifestasi dalam perilaku kehidupan sehari-hari. Anak harus merasakan itu sebagai pengalaman batin yang akan membentuk karakter dirinya. Suasana rumah menjadi pondamen penting bagi pembentukan karakter anak selanjutnya, baik di sekolah maupun di pergaulan nantinya.

Kedua, perlunya mengembangan multi kecerdasan anak. Adalah salah kaprah membatasi kecerdasan anak hanya pada ranah kognitif saja. Sehingga anak yang tidak mendapatkan prestasi akademik yang baik, dianggap sebagai anak yang bodoh dan tidak bermasa depan. Orangtua perlu menyadari ini, sehingga tidak melulu menuntut anak mengejar prestasi akademik tinggi, sehingga justru melupakan “kecerdasan” anak yang sesungguhnya.

Kecerdasan seseorang dapat dilihat dari banyak dimensi, karena kecerdasan memiliki makna yang luas. Pakar multiple intellegence Howard Garner menyebutkan 8 bentuk kecerdasan, yakni: kecerdasan linguistik, matematis-logis, visual-spasial, musikal, kinestetik, interpersonal, intrapersonal, dan naturalis.

Setiap anak pasti memiliki kecenderungan jenis kecerdasan tertentu. Kecenderungan tersebut harus ditemukan melalui pencarian kecerdasan (discovering ability). Para orangtua atau guru bisa berperan dalam proses pencarian kecerdasan ini, sehingga potensi dan bakat anak dapat dikembangkan secara optimal.

Ketiga, pembentukan kebiasaan atau habit forming. Dalam upaya membentuk anak muslim yang berkarakter, habbit (kebiasaan) menjadi salah satu pilar penting yang tidak boleh diabaikan. Meski harus dimulai dari kesadaran hati, namun untuk menjadi sebuah karakter kepribadian, diperlukan proses pembiasaan dalam jangka panjang, kontinu, dan berkelanjutan.

Pengabaian terhadap habbit forming akan memunculkan kepribadian yang pecah (split personality), di mana seseorang menyadari dan meyakini kebenaran atau kemuliaan suatu ajaran, namun tidak mampu mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, karena tidak terbiasa dan terlatih. Dalam hal ini, anak tidak hanya dididik untuk tahu (kognitif), mampu (bisa/keterampilan), dan mau (kesadaran), namun juga terbentuk (terinternalisasi menjadi bagian dari kepribadian).

Sebagai contoh, shalat tidak hanya diajarkan dari sudut kaifiyat (tata pelaksanaannya)-nya saja, namun harus melalui penyadaran, belajar langsung dari praktik keseharian, pembiasaan, dan keteladanan. Demikian juga pada aspek-aspek yang lain.

Keempat adalah keteladanan (uswatun hasanah). Keteladanan menjadi faktor superpenting dalam membentuk pribadi anak yang berkualitas dan berkarakter. Orang tua harus menjadi contoh nyata (uswatun hasanah) bagi anak-anaknya.

Hal ini terjadi karena secara naluriah dalam diri anak ada potensi untuk meniru hal-hal yang ada di sekitarnya. Pada usia dini, keteladanan orang tua sangat berpengaruh terhadap kepribadian anak. Segala yang dilakukan oleh orang tua dianggapnya selalu benar dan paling baik. Maka, secara otomatis anak akan mudah menirunya. (*)



*) Materi ini pernah disampaikan penulis dalam acara Smart Parenting di SDIT Islamic Centre Purwodadi oleh Badiatul Muchlisin Asti

Rabu, 26 Desember 2012

Guru dan Kurikulum 2013

Sukemi
Ada empat aspek yang harus diberi perhatian khusus dalam rencana implementasi dan keterlaksanaan kurikulum 2013. Apa saja?  
Pertama, kompetensi guru dalam pemahaman substansi bahan ajar (baca: kompetensi pedagogi/akademik).  Didalamnya terkait dengan metodologi pembelajaran, yang nilainya pada pelaksanaan uji kompetensi guru (UKG) baru mencapai rata-ratanya 44,46.
Kedua, kompetensi akademik (keilmuan), ini juga penting, karena guru sesungguhnya memiliki tugas untuk bisa mencerdaskan peserta didik dengan ilmu dan pengetahuan yang dimilikinya, jika guru hanya menguasai metode penyampaiannya tanpa kemampuan akademik yang menjadi tugas utamanya, maka peserta didik tidak akan mendapatkan ilmu pengetahuan apa-apa.
Ketiga, kompetensi sosial. Guru harus juga bisa dipastikan memiliki kompetensi sosial, karena ia tidak hanya dituntut cerdas dan bisa menyampaikan materi keilmuannya dengan baik, tapi juga dituntut untuk secara sosial memiliki komptensi yang memadai. Apa jadinya seorang guru yang asosial, baik terhadap teman sejawat, peserta didik maupun lingkungannya.
Keempat, kompetensi manajerial atau kepemimpinan. Pada diri gurulah sesungguhnya terdapat teladan, yang diharapkan dapat dicontoh oleh peserta didiknya.
Guru sebagai ujung tombak penerapan kurikulum, diharapkan bisa menyiapkan dan membuka diri terhadap beberapa kemungkinan terjadinya perubahan.
Kesiapan guru lebih penting dari pada pengembangan kurikulum 2013. Kenapa guru menjadi penting? Karena dalam kurikulum 2013, bertujuan mendorong peserta didik, mampu lebih baik dalam melakukan observasi, bertanya, bernalar, dan mengkomunikasikan (mempresentasikan), apa yang mereka peroleh atau mereka ketahui setelah menerima materi pembelajaran.
Melalui empat tujuan itu diharapkan siswa memiliki kompetensi sikap, ketrampilan, dan pengetahuan jauh lebih baik. Mereka akan lebih kreatif, inovatif, dan lebih produktif.
Disinilah guru berperan besar didalam mengimplementasikan tiap proses pembelajaran pada kurikulum 2013. Guru ke depan dituntut tidak hanya cerdas tapi juga adaptip terhadap perubahan. (***)


sumber: http://www.kemdiknas.go.id/kemdikbud/artikel_kurikulum2013

Selasa, 25 Desember 2012

TIPE GURU MANAKAH KITA?

Kualitas pendidikan tidak hanya ditentukan oleh sistem pendidikan, tetapi ditentukan juga oleh pendidik. Melalui pendidiklah aktivitas paedagogis dapat diarahkan pada tujuan yang ingin dicapai, yaitu mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban yang bermartabat.
Guru selain sebagai pendidik, juga bertanggung jawab dalam mentransformasikan ilmu pengetahuan dan nilai-nilai yang telah ditetapkan, sehingga kehadiran guru akan banyak memengaruhi keberhasilan proses pendidikan itu sendiri. Gurulah yang menjadi ujung tombak dalam proses penyiapan generasi mendatang. Karena itu, jika bangsa ini hendak menyiapkan generasi mendatang, gurulah yang pertama kali harus dipersiapkan.
Dalam kehidupan masyarakat, istilah guru mempunyai arti lebih luas, tidak sebatas guru di sekolah saja. Semua orang yang pernah memberikan atau mengajarkan suatu ilmu atau kepandaian tertentu kepada seseorang atau sekelompok orang dapat disebut guru. Misalnya, guru silat, guru mengetik, guru menjahit, dan sebagainya.
Mengajar sering kali dikaitkan dengan kegiatan menyampaikan dan memberikan sesuatu berupa bahan dan materi tertentu yang mesti dipelajari oleh siswa. Karena itu, ketika guru mengajar, ia mengajar sesuai dengan garis besar program pengajaran sebagaimana terdapat dalam kurikulum.
Dalam tindak mengajar, terdapat proses transfer dari guru kepada siswa. Jadi, tindakan mengajar lebih berurusan dengan penyampaian materi pelajaran sehingga siswa dapat memahami isi kurikulum yang mesti mereka pelajari. Hasil ajaran ini lantas diuji melalui proses evaluasi untuk melihat apakah siswa itu dapat menguasai materi yang diajarkan atau belum.
Mendidik memiliki konotasi yang lebih luas, tidak sekadar menyampaikan materi pelajaran. Karena itu, mendidik juga tidak sekadar berurusan dengan menyampaikan materi pelajaran. Guru mendidik dengan cara menghadirkan diri mereka secara utuh di hadapan siswa dan dengan itu siswa merasakan kehadiran guru sebagai sosok yang istimewa, sebagai pribadi yang memberikan inspirasi dan rasa hormat.
Guru menjadi teman, sahabat, pengajar, rekan kerja, pendamping, orang tua, dan semua kemampuan individu yang memungkinkan proses belajar di sekolah berjalan dengan baik, di dalam maupun di luar kelas. Kegiatan mendidik berkaitan dengan eksistensi keseluruhan individu dalam relasinya dengan orang lain dan lingkungannya. Untuk itu, mendidik tidak dapat dibatasi oleh kegiatan di dalam kelas.
Seiring perkembangan kehidupan yang semakin kompleks, kadang guru terjebak pada kehidupan materialistik. Hal ini membuat Aris Setiawan membagi guru menjadi tiga kategori, yaitu guru nyasar, bayar, dan sadar. (Republika, 9/12).
Guru nyasar, sosok yang hanya melihat guru sebuah profesi alternatif di tengah kesulitan mencari kerja. Tipe ini yang penting adalah bekerja, memberikan materi seadanya, pasang muka killer, dan selalu memarahi muridnya dengan kata-kata yang tidak seharusnya.
Guru bayar, memiliki tipikal pada awal bulan penuh semangat mengajar, dan pada akhir bulan lemas. Guru kategori ini biasanya tidak pernah menghafal nama anak didiknya. Bila diumpamakan, ada uang aku sayang, tidak ada uang aku melayang.
Guru sadar, sosok pendidik yang mampu memosisikan diri sebagai orang tua. Anak didik dianggap sebagai anak kandung sendiri. Ia sadar bergaji kecil, tapi lebih mengharapkan gaji yang cair di akhirat. Ia juga kenal dekat dengan siswa dan orang tuanya. Guru kategori ini mampu menyenangkan dan menggerakkan semangat siswanya. Guru sadar ini mampu memerankan dirinya sebagai sosok sebagaimana diuraikan Eric Hoyle dalam bukunya, The Role of Teacher.
Muhammad Atiyah al-Abrasyi, Abdurrahman an-Nahlawi, dan Imam al-Ghazali menambahkan sifat-sifat yang dimiliki sosok guru sadar, yaitu zuhud, kebersihan diri, ikhlas, pemaaf, kebapak-bapakan, mengetahui tabiat anak didik, menguasai mata pelajaran, bersifat rabbani, sabar, jujur, senantiasa membekali diri dengan ilmu, mampu menggunakan berbagai metode mengajar, mampu mengelola anak didik, mengetahui keadaan psikis anak didik, memiliki kepekaan dalam mengantisipasi perkembangan yang terjadi, bersifat adil, tidak meninggalkan nasihat, tidak berlaku kasar, tidak menjelek-jelekkan ilmu yang lain di depan anak didik, tidak mengajarkan sesuatu di luar kemampuan anak didik, mengajarkan pelajaran secara jelas, dan hendaknya pendidik mengamalkan ilmunya.
Wahai bapak dan ibu guru, termasuk tipe guru manakah kita: nyasar, bayar, ataukah sadar?

•Republika, Guru Menulis, 14/12-2011